Awal Januari 2010, mendung menggelayuti menembus batas mega – mega yang senantiasa berwarna putih dan cerah. Tawa bahagia yang senantiasa menghiasi bibir – bibir manis, sontak berubah menjadi tangisan sepanjang malam. Siapa yang pernah menduga, jika kebahagiaan dan tawa yang dihadirkannya menjadi tawa terakhir atas persahabatan yang terbina selama ini.
Senyuman cerahnya menebar rumah sakit bercorak putih, kiri kanan dipadati oleh keluarga pasien. Tepat di ruang tunggu HCU, semua rekan – rekan Visi berkumpul. Sebuah kecelakaan dipenghujung Desember lalu, telah menimpa Nurhasanah ( Pimred Visi) dan Nur Haida ( Layouter Visi). Semua hadir diruangan itu untuk memberikan semangat dan kasih sayang agar Nurhasanah bisa selamat dari maut.
Sekitar pukul 18.00 wib, mengenakan baju kemeja berwarna merah dan senyum khas ramah memancar dari bibirnya yang dihiasi oleh janggut tipis. Senyuman dan canda tawanya menghiasi dan menyapa hangat semua sahabatnya tanpa ada yang terlewatkan. Saat cacing – cacing di perut ini mulai melilit, beriring – iringan Reni, Jannah, Uli, Ana, Zaitun, dan saya ( penulis) mencari rumah makan terdekat di sekitar lokasi Rumah Sakit Santa Maria. Terbagi dalam dua meja yang saling bersebrangan, tapi tak membuat selera makan ini berkurang.
“Hari ini saya yang teraktir,” ucapnya.
“Waduh, banyak duit nih,” ucap Reni.
“Alhamdulillah, dapat dana beasiswa kemarin. Jadi bisa saling bagi – bagi,” jawabnya santai dan merogoh uang merah seratus ribu kepada kasir.
Semua yang ada tertawa mendengarnya dan sangat senang dengan suasana makan gratis ala rumah makan Padang. Spontak si centil Uli berteriak,”Nan, telor rebus satu ya,” teriaknya diikuti aksi yang serupa oleh Reni si Sekretariat Visi.
Pria yang akrab dengan nama icon detektif kartun itu senyum – senyum manis melihat aksi kocak gadis – gadis yang heboh itu. Akhirnya kami semua berombongan kembali ke ruang perawatan saat azan magrib telah berkumandang dan masing – masing menunaikan ibadah secara bergantian.
“Kawan – kawan saya permisi mau pulang dulu,”pamitnya undur diri saat jam dipergelangan tangan telah meranjak melangkah ke pukul 19.30 wib.
“Kamu balik kemana?”, tanyaku saat ia menghampiriku.
“Ke Minas kak”
“Hari sudah malam, besok saja,” ucapku membujuknya.
“Tidak apa kak, sudah biasa.”
“Yuk, teman – teman saya pulang. Assalamu’alaikum,” ucapnya dan meninggalkan semua sahabatnya yang masih setia menunggui di ruang HCU memastikan kondisi terakhir Nurhasanah yang ternyata mengalami gegar otak ringan akibat kecelakaan di Jalan Rowosari Rumbai. Sebuah sepeda motor melaju kencang saat melintasi sebuah belokan. Tak ayal kecelakaan itu tak dapat dihindari. Niat semula hendak makan siang beramai – ramai di rumah makan lesehan di daerah Rowosari berakhir di rumah sakit Santa Maria. Nurhaida mengalami bengkak di kaki kanan. Tapi, sayang tak ada yang memperdulikannya hingga terbaring lemah di kosan. Karena semua perhatian tertuju pada Nurhasanah yang mengalami shock berat akibat kecelakaan dan muntah sepanjang perjalanan. Kesetiaan Eko Paryono akhirnya membayar semua kesakitan yang dialami sigadis cilik nan imut ini. Pertolongan seorang tukang urut telah mengembalikan kondisinya untuk bisa berlari selincah kancil.
***
Saat lelah menghampiriku sesampai dikosan berlantai tiga, sebuah telpon masuk di ponsel mungilku.
“Conan kecelakaan di Palas,”suara disebrang sana mengagetkanku.
“Apa? Siapa?” ulangku.
“Iya, Conan kecelakaan,” suara Rohani disebrang sana terdengar sangat tergesa – gesa dan nafasnya yang tersengal.
“Kondisinya?”
“Ia meninggal dan kami sedang di TKP. Tolong kabari segera pada keluarganya,” pinta pria yang akrab dipanggil Heru.
Usai berkata demikian pembicaraan terputus dan aku berada dalam alam kembimbangan antara sadar dan tidak. Aku tidak percaya dengan apa saja yang baru didengar oleh daun telinga ini. Betapa sangat inginnya aku berharap bahwa ini hanyalah canda tawa teman – teman yang usil, demikian anganku. Aku tersandar dipinggiran kasur masih dengan tangan memegang handphone erat.
Memoriku berputar pada kebersamaan yang dilalui bersama ia yang kini telah tiada. Senin, 11 Januari 2010 menjadi sebuah tangisan pilu semua sahabatnya di kampus berlogo Burung Hantu. Ali Musa, pria kelahiran 1986 silam ini telah menghadap Sang Pencipta sekitar pukul 21.00 wib seusai diskusi dengan Amalludin ( Mantan Ketua UKMI Al- Fatah Unilak). Menurut informasi yang diberikan oleh pihak Polsek Palas mengatakan bahwa kematiannya murni akibat kecelakaan. Korban menabrak mobil truk yang tengah berdiri di lintas jalan Rumbai – Minas. Tak ada saksi mata yang dapat membuktikan kebenaran itu. hingga akupun tak tahu harus bertanya pada siapa saat melihat sosok jenazahnya di kamar mayat Rsud Arifin Ahmad jam 23.00 wib lalu.
****
Senin, 11 Januari 2010 Pukul 23.00 wib pembuktian cerita. Semua kru Visi dan sahabatnya tak percaya dengan berita itu, semua menganggap itu adalah sebuah lelucon. Karena jauh sebelum kecelakaan tersebut, ada beberapa telpon iseng yang mengatakan bahwa anggota Visi ada yang meninggal. Tapi itu hanya isu belaka. Rasa tak percaya itu akhirnya terbayar sudah saat jenazahnya terbujur di mobil polisi lengkap dengan pakaian dan tasnya. Tubuh itu telah kaku, bibirku membeku, tatapannya kosong, sebuah benturan menghantam dahinya hingga darah menetes.
Tanganku memegang tasnya, basah. Ku fikir itu adalah air, tapi saat mata ini melihat ada yang merah dan aliran panas menyentuh kulitku. Ternyata darahnya yang menempel di tangan kanan ini, ada getaran yang tak mampu ku ungkap dengan kata. Darahnya masih segar dan terasa panas, usai kecelakaan sekitar dua jam lalu. Hingga akhirnya aku segera membasuh tangan pada kegenangan air di lantai ruangan mayat tersebut.
Semua sahabatnya di Kampus Kuning menyemuti ruang mayat RSUD Arifin Ahmad. Semua temannya di berbagai organisasi yang diikutinya turut hadir dan tak ketinggalan sahabatnya sesama aktivis dari kampus lain.
Seorang wanita yang bertubuh subur, cantik, berkerudung duduk dipelataran rumah sakit dengan lafaz istigfar yang tak henti mengalir dari bibirnya. Matanya sembab, aku merangkulnya erat. Kesabaran dan kekuatan imannya terpancar dari ketegarannya menerima takdir. Ummu Jasmani, dari rahimnya lahirlah seorang Ali Musa. Kenangan terakhirnya bersama sibuah hati dipenghujung hayatnya tak dapat ia pungkiri ada sesuatu yang hilang. Sebuah permata yang takkan pernah kembali lagi ia miliki.
Dimata sang bunda sosoknya sangat santun, berbudi, ta’at terhadap agama dan perintah Allah. Air mata menetes dari kedua pelupuk matanya, karena ia takkan pernah lagi mendengar alunan azan dari putranya yang senantiasa berlari ke masjid dekat rumahnya untuk azan Shubuh saat semua mata terlelap. Ataupun suara merdunya saat mengalunkan ayat suci usai sholat fardhu.
Seluruh keluarganya hadir malam itu, Ali Musa meninggalkan ayahnya Abu Zulfar yang menatap jenazah putranya dengan bahasa yang sukar dilukiskan. Saudaranya ukhti ani, ukhti oja, ukhti bucia, ukhti yesi dan akhi eki dalam kesabaran yang tiada tara.
Siapa yang tak kenal Ali Musa, mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer (Filkom) angkatan 2008 ini, seorang aktivis muda, penuh semangat membara dan senantiasa mau untuk belajar. Kegigihan dan kecintaannya terhadap organisasi dan kampus terlihat dari aktivitasnya yang sebagian besar di kampus Unilak. Bahkan menjelang ajal menjemput, ia baru saja meninggalkan kampus pada pukul 21.00 wib hanya untuk membahas organisasi.
Diusianya yang masih sangat belia, semangat tinggi, kritis dan vokal, pria muda ini adalah harapan ke depan bagi lahirnya aktivis kampus. Semangatnya di UKM Pers VISI terasa begitu hidup. Kecintaannya terhadap dunia jurnalistik telah menghantarkannya ikut dalam pelatihan Tingkat Lanjut di Tapis Berseri, Lampung tahun lalu. Ia bergabung di Visi tahun 2009 lalu dan baru diangkat sebagai kru tetap Juni 2009.
Sebuah perjuangan dan semangat yang jarang ditemukan dalam perkembangan kehidupan kampus kita. Masih akankah lahirnya Ali Musa atau Conan lain di kampus kita? Yang dengan semangat membara mempersembahkan yang terbaik untuk kampus dan mengharumkan nama Universitas Lancang Kuning di dunia luar? Sudah selayaknya hati kita semua terketuk, bahwa waktu sangat sempit. Ajal tak mengenal usia dan kesempatan untuk berbuat baik dibatasi oleh waktu.
Masih ada waktu bagi semua sahabat di Kampus Kuning ini untuk kembali bersatu, bahu membahu, berfikir ke depan dengan berbagai pertanyaan. Apa yang telah aku persembahkan untuk kampusku? Apakah aku telah sungguh – sungguh berkorban untuk mengerahkan fikiran dan tenaga membuat kampus kita menjadi yang terbaik? Apakah kita telah satu suara untuk melangkah? Masihkah ada suara – suara sumbang yang senantiasa saling lempar kesalahan?
Kampus Kuning telah kehilangan satu pilar, tapi kehilangannya akan melahirkan ribuan pilar lain yang akan membuat Unilak bersinar. Semua perselisihan dan keegoan dari hati kita semua harus diredam. Kesuksesan itu tak hanya bisa dicapai bila hanya satu yang bekerja. Ibarat lidi yang berserakan jika ia tak ada arti. Namun jika lidi itu yang berserak itu disatukan dan diikat barulah dapat dirasakan manfaatnya.
Sosoknya telah tiada, UKM Pers Visi pun telah kehilangan aset terbaiknya. Namun tak boleh surut untuk melangkah. Perjuangan itu harus dilanjutkan bagi kita semua yang masih cakap dan memiliki waktu untuk berbuat. Tak guna saling tuding siapa yang benar dan siapa yang salah, tapi temukanlah solusi.
Selamat jalan sahabat, ragamu telah tiada di sini, tapi semangat juangmu akan terus hidup dan membara.•Visi (ivo)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar